Selasa, 31 Maret 2026
Sibuk Bukan Selalu Tentang Banyaknya Pekerjaan
Sering kali seseorang mengatakan sibuk bukan karena waktunya benar-benar habis, tetapi karena hal yang diajak tidak termasuk dalam daftar prioritasnya.
Kita bisa melihat contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari:
Seseorang bisa mengatakan sibuk membalas pesan, tetapi tetap sempat membuka media sosial berjam-jam.
Seseorang bisa mengatakan sibuk bertemu teman lama, tetapi selalu punya waktu untuk hobinya.
Bahkan ada yang mengatakan sibuk untuk keluarganya, namun tidak pernah sibuk untuk hal yang ia cintai.
Ini bukan soal benar atau salah.
Ini soal apa yang dianggap penting dalam hidup seseorang.
Ketika Sesuatu Menjadi Prioritas, Kata Sibuk Menghilang
Perhatikan orang tua kepada anaknya.
Seberat apa pun pekerjaannya, tetap ada waktu untuk anak.
Perhatikan seseorang yang sedang jatuh cinta.
Seberapa padat pun jadwalnya, tetap ada waktu untuk menyapa.
Mengapa?
Karena cinta selalu menemukan jalan, sementara ketidakpedulian selalu menemukan alasan.
Orang yang benar-benar peduli tidak selalu punya waktu luang,
tetapi selalu menyediakan waktu.
Di situlah perbedaan antara waktu yang tersedia dan waktu yang diprioritaskan.
Mengukur Posisi Kita dalam Hidup Seseorang
Kadang kita tidak perlu bertanya apakah kita penting bagi seseorang.
Cukup perhatikan:
apakah dia menyempatkan waktu untuk mendengar kita,
apakah dia hadir saat kita membutuhkan,
apakah dia mengingat hal-hal kecil tentang kita,
atau apakah kita selalu ditempatkan setelah semuanya selesai.
Karena sejatinya, sikap jauh lebih jujur daripada kata-kata. ⏳
Jika seseorang selalu sibuk untuk kita, tetapi tidak sibuk untuk hal lain yang kurang penting, mungkin kita memang belum menjadi prioritasnya.
Jangan Salah Memahami Makna Kesibukan
Namun di sisi lain, kita juga perlu bijak memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab.
Ada kesibukan yang memang nyata:
pekerjaan
keluarga 👨👩👧👦
kesehatan
tanggung jawab hidup
Karena itu, tulisan ini bukan untuk menghakimi orang yang sibuk.
Tulisan ini adalah ajakan untuk memahami arti prioritas—baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri.
Pertanyaan yang Perlu Kita Tanyakan Justru kepada Diri Sendiri
Apakah kita sudah memberikan waktu untuk hal yang benar-benar penting dalam hidup kita?
Apakah kita sudah menyediakan waktu untuk:
keluarga 👨👩👧👦
sahabat 🤝
pasangan ❤️
ibadah 🤲
dan tujuan hidup kita sendiri
Jika belum, mungkin bukan kita yang sibuk—melainkan prioritas kita yang perlu diperbaiki.
Menjadi Pribadi yang Tahu Menempatkan Prioritas
Hidup yang baik bukan tentang melakukan banyak hal sekaligus,
tetapi tentang melakukan hal yang tepat pada waktu yang tepat.
Karena pada akhirnya:
orang yang mencintai akan meluangkan waktu,
orang yang peduli akan mencari kesempatan,
dan orang yang menjadikan kita prioritas tidak akan menjadikan kata sibuk sebagai alasan yang berulang.
Maka jadilah pribadi yang tidak hanya berkata peduli,
tetapi hadir ketika dibutuhkan.
Karena kehadiran adalah bentuk perhatian yang paling nyata dalam kehidupan
WFH, PENGHEMATAN ENERGI DAN REALITAS PENEMPATAN PPPK
Rencana WFH untuk Penghematan Energi dan Realitas Penempatan PPPK di Kabupaten Lahat
Kebijakan Work From Home (WFH) yang direncanakan sebagai bagian dari upaya penghematan energi merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Dalam konteks global saat ini, efisiensi penggunaan energi memang menjadi kebutuhan penting, baik untuk menekan biaya operasional pemerintah maupun sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Namun demikian, implementasi kebijakan ini perlu mempertimbangkan kondisi nyata di daerah, khususnya terkait penempatan tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang baru diangkat.
Di Kabupaten Lahat, banyak tenaga PPPK ditempatkan jauh dari domisili mereka. Sebagian besar di antaranya harus menempuh perjalanan harian menggunakan sepeda motor dengan jarak yang tidak dekat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kebijakan WFH benar-benar menjawab persoalan penghematan energi secara menyeluruh di tingkat daerah?
Penempatan PPPK di wilayah yang berjauhan dari tempat tinggal menyebabkan beberapa dampak nyata:
Tingginya konsumsi bahan bakar harian bagi pegawai.
Risiko keselamatan perjalanan yang meningkat karena jarak tempuh yang jauh.
Beban biaya transportasi pribadi yang cukup besar.
Penurunan efektivitas kerja akibat kelelahan perjalanan.
Mayoritas tenaga PPPK menggunakan kendaraan roda dua sebagai moda transportasi utama. Artinya, energi yang dikonsumsi setiap hari justru cukup signifikan di tingkat individu.
Secara prinsip, WFH bertujuan mengurangi mobilitas pegawai sehingga konsumsi energi dapat ditekan. Namun pada praktiknya di daerah seperti Kabupaten Lahat, kebijakan ini belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan, karena:
Pegawai tetap harus melakukan perjalanan jauh pada hari kerja non-WFH.
Penempatan kerja yang jauh dari domisili masih menjadi faktor utama konsumsi energi.
Beban energi justru lebih banyak ditanggung individu daripada institusi.
Dengan kata lain, penghematan energi pada level kantor belum tentu sejalan dengan penghematan energi pada level pegawai.
Agar kebijakan WFH benar-benar efektif dan berkeadilan, diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual, antara lain:
Evaluasi penempatan PPPK berbasis kedekatan domisili.
Pertimbangan redistribusi pegawai secara bertahap.
Skema WFH prioritas bagi pegawai dengan jarak tempuh jauh.
Dukungan transportasi atau kebijakan fleksibilitas jam kerja.
Pendekatan seperti ini akan membuat kebijakan penghematan energi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berdampak nyata bagi pegawai di lapangan.
Kebijakan WFH merupakan langkah positif dalam rangka efisiensi energi dan modernisasi tata kelola pemerintahan. Namun keberhasilannya sangat ditentukan oleh keselarasan antara kebijakan pusat dan kondisi daerah. Dalam konteks Kabupaten Lahat, penempatan tenaga PPPK yang jauh dari domisili perlu menjadi perhatian serius agar tujuan penghematan energi benar-benar tercapai secara menyeluruh dan berkeadilan.
Kebijakan yang baik bukan hanya hemat energi secara sistem, tetapi juga meringankan beban aparatur yang menjalankannya setiap hari
JADI ORANG BAIK
Menjadi orang baik adalah pilihan yang sangat mulia. Menolong tanpa diminta, membantu tanpa pamrih, dan hadir ketika orang lain sedang kesulitan adalah tanda bahwa hati kita masih hidup dan dipenuhi kepedulian. Namun dalam perjalanan hidup, kita juga perlu memahami satu hal penting: menjadi baik tetap harus disertai kehati-hatian.
Tidak semua orang yang pernah kita bantu akan membalas dengan kebaikan. Ada yang menerima pertolongan dengan rasa syukur, tetapi ada juga yang setelah terbantu justru berubah sikap. Bahkan tidak sedikit yang kemudian memutarbalikkan cerita, menebar fitnah, atau diam-diam menjatuhkan orang yang dulu menolongnya.
Contoh sederhana sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Ada orang yang kita bantu mendapatkan pekerjaan. Kita rekomendasikan, kita dampingi, bahkan kita jaga nama baiknya. Namun setelah ia merasa posisinya aman, justru ia mulai menjauh, mengurangi rasa hormat, bahkan menyebarkan cerita yang tidak benar tentang kita agar dirinya terlihat lebih baik.
Ada juga yang pernah kita bantu secara materi saat kesulitan. Kita pinjamkan uang tanpa jaminan karena percaya dan ingin meringankan bebannya. Tetapi ketika ditagih dengan cara baik-baik, justru kita yang dianggap menekan, disebut tidak ikhlas, bahkan difitnah seolah-olah kita yang bersalah.
Contoh lain, ketika kita membela seseorang di hadapan orang lain karena ingin menjaga kehormatannya. Namun di belakang kita, orang yang sama justru menyampaikan cerita berbeda, seakan-akan kitalah yang memperkeruh keadaan.
Situasi seperti ini memang menyakitkan. Tetapi dari situlah kita belajar bahwa kebaikan harus disertai kebijaksanaan. Menolong bukan berarti membuka semua batas. Peduli bukan berarti menyerahkan seluruh kepercayaan tanpa pertimbangan.
Sebagai pengingat, ada sebuah dongeng lama tentang seekor bangau dan seekor serigala.
Suatu hari, serigala tersedak tulang di tenggorokannya. Ia kesakitan dan hampir mati. Banyak hewan takut menolong karena serigala dikenal buas dan sering memangsa mereka. Namun seekor bangau yang berhati baik merasa kasihan. Dengan lehernya yang panjang, bangau membantu mengeluarkan tulang dari tenggorokan serigala.
Serigala pun sembuh.
Bangau lalu berkata dengan sopan, “Aku sudah menolongmu. Bolehkah aku menerima balasan sebagaimana janjimu?”
Serigala tertawa dan menjawab, “Bukankah sudah cukup bagimu bisa memasukkan kepalamu ke mulutku dan keluar dengan selamat? Itu sudah balasan yang besar!”
Bangau pun sadar bahwa ia telah menolong makhluk yang tidak tahu berterima kasih.
Beberapa waktu kemudian, serigala kembali mencari mangsa di sekitar sungai tempat bangau biasa berdiri. Karena terlalu percaya diri dan merasa semua hewan takut padanya, serigala masuk terlalu jauh ke rawa berlumpur. Ia terperosok dan akhirnya tidak bisa keluar. Tidak ada hewan yang mau menolongnya, karena semua mengingat sifatnya yang jahat dan tidak tahu membalas kebaikan.
Akhirnya serigala terkena akibat dari sikapnya sendiri.
Dongeng ini mengajarkan bahwa kebaikan tetaplah kebaikan, tetapi kita juga perlu bijak melihat kepada siapa kebaikan itu diberikan. Orang yang tidak tahu menghargai pertolongan sering kali pada akhirnya jatuh oleh perbuatannya sendiri.
Tetaplah menjadi orang baik. Jangan berhenti membantu. Jangan berubah menjadi keras hanya karena pernah disakiti. Namun belajarlah untuk mengenali siapa yang benar-benar tulus, siapa yang hanya datang saat membutuhkan.
Ikhlaskan kebaikan yang sudah kita lakukan. Jangan berharap balasan dari manusia. Karena jika manusia lupa, Allah tidak pernah lupa. Jika manusia membalas dengan fitnah, Allah membalas dengan kemuliaan. Jika manusia menjatuhkan dari belakang, Allah meninggikan derajat orang yang tetap sabar dan menjaga niatnya.
Menjadi baik itu pilihan. Menjadi bijak dalam berbuat baik itu keharusan. Dan menjaga diri dari orang yang tidak tahu berterima kasih adalah bentuk menghargai diri sendiri.
Tetaplah menolong, tapi tetaplah waspada. Tetaplah tulus, tapi tetaplah tegas. Karena hati yang baik juga berhak untuk dijaga.
Rabu, 25 Maret 2026
Perasaan Seorang Lelaki
Seorang laki-laki sering kali disalahpahami. Banyak orang mengira bahwa yang ada di pikirannya hanyalah nafsu dan hasrat semata. Padahal jauh di dalam hatinya, yang paling ia inginkan bukanlah itu. Ia hanya ingin diterima dengan tulus, dihargai tanpa diminta, dan merasa dibutuhkan tanpa harus memohon. Ia ingin keberadaannya berarti di rumah yang ia perjuangkan setiap hari.
Seorang laki-laki juga merindukan kedekatan. Ia haus perhatian, bukan dari siapa saja, tetapi dari wanita yang telah ia pilih sebagai istrinya. Dari satu-satunya perempuan yang ia percayakan untuk berjalan bersamanya sepanjang hidup. Kedekatan itu baginya bukan sekadar sentuhan, melainkan bahasa cinta, rasa aman, dan penguat langkah setelah lelah menghadapi kerasnya dunia.
Ketika seorang laki-laki mulai merasa ditolak oleh istrinya sendiri, maka yang menjauh bukan hanya tubuhnya. Perlahan hatinya ikut menjauh. Ia bisa tetap diam di rumah yang sama, tetap menjalankan tanggung jawabnya seperti biasa, tetapi di dalam dirinya ada bagian yang mulai lelah, mulai sepi, dan perlahan terasa mati karena merasa tidak lagi diinginkan oleh wanitanya sendiri.
Padahal sesungguhnya, seorang laki-laki selalu membutuhkan kehangatan istrinya. Kehangatan itu bukan kelemahan, melainkan tempat pulang paling aman baginya di dunia ini. Dari sanalah ia mendapatkan kekuatan untuk tetap berdiri tegak, tetap bekerja keras, tetap bertahan menghadapi tekanan hidup, dan tetap setia menjaga keluarganya.
Seorang laki-laki mungkin jarang bercerita tentang lelahnya. Ia tidak selalu pandai mengungkapkan rasa rindunya. Namun di balik diamnya, ia menyimpan harapan sederhana: dipahami tanpa harus banyak menjelaskan, dipeluk tanpa harus meminta, dan dicintai tanpa harus bersaing dengan kesibukan dunia.
Karena bagi seorang laki-laki, rumah bukan hanya tempat untuk pulang. Rumah adalah tempat di mana hatinya ingin diterima sepenuhnya. Dan istrinya adalah satu-satunya tempat ia berharap menemukan ketenangan yang tidak ia temukan di mana pun di dunia ini.
Langganan:
Komentar (Atom)

