JADI ORANG BAIK
Menjadi orang baik adalah pilihan yang sangat mulia. Menolong tanpa diminta, membantu tanpa pamrih, dan hadir ketika orang lain sedang kesulitan adalah tanda bahwa hati kita masih hidup dan dipenuhi kepedulian. Namun dalam perjalanan hidup, kita juga perlu memahami satu hal penting: menjadi baik tetap harus disertai kehati-hatian.
Tidak semua orang yang pernah kita bantu akan membalas dengan kebaikan. Ada yang menerima pertolongan dengan rasa syukur, tetapi ada juga yang setelah terbantu justru berubah sikap. Bahkan tidak sedikit yang kemudian memutarbalikkan cerita, menebar fitnah, atau diam-diam menjatuhkan orang yang dulu menolongnya.
Contoh sederhana sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Ada orang yang kita bantu mendapatkan pekerjaan. Kita rekomendasikan, kita dampingi, bahkan kita jaga nama baiknya. Namun setelah ia merasa posisinya aman, justru ia mulai menjauh, mengurangi rasa hormat, bahkan menyebarkan cerita yang tidak benar tentang kita agar dirinya terlihat lebih baik.
Ada juga yang pernah kita bantu secara materi saat kesulitan. Kita pinjamkan uang tanpa jaminan karena percaya dan ingin meringankan bebannya. Tetapi ketika ditagih dengan cara baik-baik, justru kita yang dianggap menekan, disebut tidak ikhlas, bahkan difitnah seolah-olah kita yang bersalah.
Contoh lain, ketika kita membela seseorang di hadapan orang lain karena ingin menjaga kehormatannya. Namun di belakang kita, orang yang sama justru menyampaikan cerita berbeda, seakan-akan kitalah yang memperkeruh keadaan.
Situasi seperti ini memang menyakitkan. Tetapi dari situlah kita belajar bahwa kebaikan harus disertai kebijaksanaan. Menolong bukan berarti membuka semua batas. Peduli bukan berarti menyerahkan seluruh kepercayaan tanpa pertimbangan.
Sebagai pengingat, ada sebuah dongeng lama tentang seekor bangau dan seekor serigala.
Suatu hari, serigala tersedak tulang di tenggorokannya. Ia kesakitan dan hampir mati. Banyak hewan takut menolong karena serigala dikenal buas dan sering memangsa mereka. Namun seekor bangau yang berhati baik merasa kasihan. Dengan lehernya yang panjang, bangau membantu mengeluarkan tulang dari tenggorokan serigala.
Serigala pun sembuh.
Bangau lalu berkata dengan sopan, “Aku sudah menolongmu. Bolehkah aku menerima balasan sebagaimana janjimu?”
Serigala tertawa dan menjawab, “Bukankah sudah cukup bagimu bisa memasukkan kepalamu ke mulutku dan keluar dengan selamat? Itu sudah balasan yang besar!”
Bangau pun sadar bahwa ia telah menolong makhluk yang tidak tahu berterima kasih.
Beberapa waktu kemudian, serigala kembali mencari mangsa di sekitar sungai tempat bangau biasa berdiri. Karena terlalu percaya diri dan merasa semua hewan takut padanya, serigala masuk terlalu jauh ke rawa berlumpur. Ia terperosok dan akhirnya tidak bisa keluar. Tidak ada hewan yang mau menolongnya, karena semua mengingat sifatnya yang jahat dan tidak tahu membalas kebaikan.
Akhirnya serigala terkena akibat dari sikapnya sendiri.
Dongeng ini mengajarkan bahwa kebaikan tetaplah kebaikan, tetapi kita juga perlu bijak melihat kepada siapa kebaikan itu diberikan. Orang yang tidak tahu menghargai pertolongan sering kali pada akhirnya jatuh oleh perbuatannya sendiri.
Tetaplah menjadi orang baik. Jangan berhenti membantu. Jangan berubah menjadi keras hanya karena pernah disakiti. Namun belajarlah untuk mengenali siapa yang benar-benar tulus, siapa yang hanya datang saat membutuhkan.
Ikhlaskan kebaikan yang sudah kita lakukan. Jangan berharap balasan dari manusia. Karena jika manusia lupa, Allah tidak pernah lupa. Jika manusia membalas dengan fitnah, Allah membalas dengan kemuliaan. Jika manusia menjatuhkan dari belakang, Allah meninggikan derajat orang yang tetap sabar dan menjaga niatnya.
Menjadi baik itu pilihan. Menjadi bijak dalam berbuat baik itu keharusan. Dan menjaga diri dari orang yang tidak tahu berterima kasih adalah bentuk menghargai diri sendiri.
Tetaplah menolong, tapi tetaplah waspada. Tetaplah tulus, tapi tetaplah tegas. Karena hati yang baik juga berhak untuk dijaga.
Komentar
Posting Komentar