Kamis, 09 April 2026

“Kopi Ini Berbeda Tanpamu”

Pagi ini, seperti biasanya, secangkir kopi tersaji di hadapanku. Asapnya masih hangat, aromanya masih sama, dan rasanya pun seharusnya tak berubah. Tapi entah mengapa, ada yang terasa berbeda.

Kopi ini tidak lagi sesempurna dulu.

Dulu, setiap tegukan terasa hangat bukan hanya karena kopinya, tetapi karena ada kamu di seberang meja. Ada cerita sederhana yang kita bagi, tawa kecil yang muncul tanpa sebab, dan tatapan yang membuat waktu terasa berjalan lebih pelan. 

Sekarang, kopi ini tetap hangat… tapi suasananya dingin.




Aku baru menyadari, ternyata bukan kopinya yang membuat pagi terasa istimewa. Bukan rasanya yang membuatku selalu ingin menambah satu cangkir lagi. Tapi kamu. Hadirmu. Suaramu. Dan caramu tersenyum sambil berkata,
“Jangan kebanyakan kopi, nanti deg-degan.”

Sejak kamu tak di sini, kopi ini hanya menjadi minuman biasa. Tidak lagi menjadi alasan untuk duduk lebih lama, tidak lagi menjadi teman berbagi cerita.

Kopi ini berbeda tanpamu.

Ia tetap pahit, tapi kini terasa lebih sepi. Ia tetap hangat, tapi tak lagi menghangatkan hati seperti dulu. Dan setiap tegukannya selalu mengingatkanku pada satu hal sederhana—bahwa ternyata, yang membuat segalanya terasa istimewa bukanlah kopinya… melainkan kebersamaan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar