Rabu, 01 April 2026

Menjaga Lisan Agar Tidak Membahayakan Diri Sendiri

Ada satu bagian tubuh manusia yang kecil ukurannya, tetapi dampaknya bisa sangat besar: lisan. Dari lisan lahir kata-kata yang mampu menguatkan, tetapi juga bisa melukai. Ia bisa menjadi sebab datangnya persahabatan, namun tidak jarang pula menjadi awal dari permusuhan. Karena itu, menjaga lisan bukan sekadar soal sopan santun, melainkan soal keselamatan diri—di dunia maupun di akhirat.

Sering kali seseorang jatuh bukan karena langkah kakinya, tetapi karena ucapannya sendiri.

Tidak sedikit persoalan besar bermula dari kalimat yang dianggap sepele. Candaan yang berlebihan bisa berubah menjadi penghinaan. Komentar yang tergesa-gesa bisa menjadi fitnah. Kritik yang tidak bijak bisa melukai harga diri orang lain.


Lebih berbahaya lagi ketika seseorang berbicara tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Di era media sosial saat ini, ucapan bukan hanya didengar oleh satu dua orang, tetapi bisa tersebar luas dalam hitungan detik.

Akibatnya:

hubungan rusak
kepercayaan hilang
nama baik tercemar
bahkan bisa menimbulkan konflik yang panjang

Kadang kita menyesal setelah berbicara, tetapi penyesalan tidak selalu mampu memperbaiki keadaan.

Salah satu bentuk kedewasaan adalah memahami bahwa tidak semua hal yang kita ketahui perlu diucapkan. Ada kalanya diam justru menjadi pilihan yang lebih bijak.

Bukan karena takut, tetapi karena menjaga:

perasaan orang lain
ketenangan suasana
kehormatan diri sendiri

Orang yang kuat bukanlah yang selalu menang dalam perdebatan, melainkan yang mampu mengendalikan ucapannya ketika emosi sedang tinggi.

Diam pada tempatnya adalah tanda kebijaksanaan.

Ucapan seseorang biasanya mencerminkan keadaan hatinya. Ketika hati dipenuhi prasangka, maka lisannya mudah menuduh. Ketika hati dipenuhi amarah, maka lisannya mudah menyakiti. Namun ketika hati dipenuhi ketenangan, maka lisannya akan menenangkan.

Menjaga lisan berarti menjaga hati.

Karena sebelum kata keluar dari mulut, ia terlebih dahulu lahir dari pikiran dan perasaan.

Orang yang menjaga lisannya biasanya:

lebih dihormati
lebih dipercaya
lebih disukai dalam pergaulan
dan lebih tenang menjalani hidup

Ini bukan kelemahan, tetapi kekuatan yang tidak semua orang miliki.


Bahaya Lisan di Era Media Sosial

Hari ini, lisan tidak hanya berbentuk suara. Tulisan di komentar, status, atau pesan singkat juga termasuk lisan dalam bentuk lain.

Sering kali seseorang berani menulis sesuatu yang tidak akan berani ia ucapkan secara langsung. Padahal dampaknya bisa lebih besar karena jejak digital sulit dihapus.

Karena itu sebelum menulis sesuatu, ada baiknya bertanya pada diri sendiri:

apakah ini benar?
apakah ini perlu?
apakah ini bermanfaat?

Jika tidak memenuhi salah satu dari tiga hal tersebut, mungkin lebih baik disimpan saja.

Menahan satu komentar negatif bisa menyelamatkan banyak hal dalam hidup kita.

Sesungguhnya menjaga lisan bukan hanya untuk melindungi orang lain, tetapi juga untuk melindungi diri sendiri.

Banyak orang kehilangan sahabat karena ucapan
kehilangan kepercayaan karena komentar
bahkan kehilangan kesempatan karena kata-kata yang tidak terjaga

Sebaliknya, orang yang berhati-hati dalam berbicara biasanya lebih mudah dipercaya dan dihargai.

Karena pada akhirnya, manusia sering diingat bukan dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang pernah ia ucapkan.

Maka sebelum berbicara, berhentilah sejenak. Pikirkan dampaknya. Pilih kata yang baik. Jika ragu, diam adalah pilihan yang paling aman dan paling bijak. 




Menteri, Anjing Ganas, dan Raja yang Kurang Move On


Tersebutlah sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang Raja yang terkenal tegas.

Tegas sekali. Bahkan mungkin terlalu tegas.

Raja ini punya hobi yang agak unik.

Bukan memancing.
Bukan berkuda.
Bukan berkebun.

Tetapi… memelihara 10 ekor anjing ganas

Anjing-anjing itu bukan anjing biasa. Mereka adalah “anjing khusus kerajaan” yang dipakai untuk menghukum Menteri yang melakukan kesalahan.

Istilah kerennya:

tim evaluasi kinerja versi ekstrem.

Suatu hari, seorang Menteri melakukan kesalahan.

Tidak jelas kesalahannya apa.
Mungkin salah laporan.
Mungkin salah strategi.
Atau mungkin cuma salah kirim pesan ke grup kerajaan.

Yang jelas, Raja langsung berkata:

“Masukkan dia ke kandang anjing!”

Semua orang di istana langsung menelan ludah.

Si Menteri pun pucat.

Ia berkata dengan suara gemetar:

“Selama 10 tahun hamba setia melayani Paduka… ini balasan Paduka?”

Raja menjawab singkat:

“Ya.”

Pendek. Tegas. Tidak banyak drama.


Namun sebelum dihukum, Menteri meminta satu permintaan.

“Apa permintaanmu?” tanya Raja.

“Berikan hamba waktu 10 hari sebelum dimasukkan ke kandang anjing.”

Raja berpikir sejenak.

Mungkin beliau merasa 10 hari tidak akan mengubah apa-apa.

“Baik. Dikabulkan.”


Selama 10 hari itu, Menteri mendatangi penjaga anjing kerajaan.

Ia berkata:

“Saya ingin merawat anjing-anjing itu.”

Penjaga anjing bingung.

“Serius? Biasanya orang minta kabur. Ini malah minta dekat-dekat.”

Namun akhirnya diizinkan.

Hari pertama…

Menteri memberi makan.

Hari kedua…

Menteri memandikan.

Hari ketiga…

Menteri menyisir bulu.

Hari keempat…

Menteri ajak jalan-jalan.

Hari kelima…

sudah mulai dipanggil:

“Pak Menteri datang! Pak Menteri datang!” (versi gonggongan tentunya)

Hari keenam sampai kesepuluh…

anjing-anjing itu sudah seperti fans berat.


Akhirnya tiba hari yang ditunggu-tunggu.

Raja berdiri dengan wibawa.

Semua pejabat berkumpul.

Menteri dimasukkan ke kandang.

Semua menahan napas.

Anjing-anjing dilepas.

Dan…

yang terjadi justru…

anjing-anjing itu mengibas-ngibaskan ekor.

Loncat-loncat.

Muter-muter.

Menjilat kaki Menteri.

Bahkan ada yang rebahan minta dielus perutnya.

Suasana berubah hening.

Raja terkejut.

“Apa yang terjadi dengan anjing-anjingku?!!”

Menteri menjawab dengan tenang:

“Hamba hanya merawat mereka 10 hari, Paduka. Mereka tidak melupakan kebaikan hamba.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan:

“Tapi hamba melayani Paduka 10 tahun…”

Istana makin sunyi.

“…dan Paduka melupakan semuanya hanya karena satu kesalahan.”

Semua pejabat mulai terharu.

Beberapa hampir tepuk tangan.

Penjaga anjing bahkan hampir menangis.


Raja terdiam lama.

Sangat lama.

Semua menunggu.

Akhirnya Raja berkata:

“Baik. Hukuman ditunda satu hari.”

Semua orang lega.

Menteri tersenyum.

Penjaga anjing tersenyum.

Anjing-anjing ikut tersenyum (mungkin).

Namun…

keesokan harinya…

Raja berkata:

“Masukkan dia ke kandang buaya.”

Seluruh istana kaget.

Menteri langsung pucat lagi.

Raja berkata santai:

“Kita coba eksperimen baru. Siapa tahu buayanya juga bisa jadi penurut dalam 10 hari.”

Karena Tidak Sholat Jum'at

Diceritakan, ada seorang pria Muslim yang entah karena terlalu percaya diri atau terlalu santai menjalani hidup, memilih tidak pergi Salat Jumat.

Bukannya ke masjid…dia malah berangkat ke hutan.

Tujuannya satu: berburu ayam hutan. 

Dalam pikirannya mungkin begini:

"Ah, sebentar saja. Habis dapat ayam, pulang. Masih sempat."

Padahal jam sudah lewat khutbah pertama.

Dengan penuh semangat seperti pemburu profesional—padahal baru modal niat dan senapan pinjaman—ia menyusuri semak-semak tinggi yang lebat.

Tiba-tiba…

di depan semak yang bergoyang pelan…

muncul sesuatu.

Bukan ayam.

Bukan burung.

Bukan juga kelinci.

Tetapi seekor harimau besar… lagi tidur nyenyak.

Mulutnya sedikit terbuka. Giginya kelihatan semua. Napasnya berat.

Dan posisinya… tepat di jalur si jejaka.

Si jejaka membeku.




Tangannya gemetar.

Senapannya jatuh…

"krek… gluduk…" langsung meluncur ke jurang.

Belum selesai kagetnya, tubuhnya ikut oleng ke belakang…

"gedebug… krakk!"

Dan… tragisnya…

kedua kakinya langsung tidak bisa digerakkan lagi.

Si jejaka teriak:

"Au! Au! Au! Ya Allah!"

Teriakan itu membuat harimau bangun.

Pelan-pelan harimau membuka mata.

Mengangkat kepala.

Menatap si jejaka.

Lalu berdiri…

dan berjalan mendekat.

Langkahnya tenang.

Santai.

Seperti orang yang baru bangun tidur tapi langsung lihat makanan sudah siap di depan meja. 

Si jejaka panik.

Tidak bisa lari.

Tidak bisa berdiri.

Tidak bisa ngapa-ngapain.

Akhirnya dia pasrah.

Lalu dia berdoa dengan suara gemetar:

"Ya Allah… ampuni hamba-Mu ini… karena tidak Salat Jumat hari ini…"

Harimau makin dekat.

Semakin dekat.

Sudah tinggal beberapa langkah lagi.

Dengan napas tersengal-sengal, si jejaka lanjut berdoa:

"Ya Allah… hamba mohon… jadikanlah harimau yang besar ini… yang bergigi tajam ini… yang berkuku runcing ini… menjadi harimau yang soleh… Ya Allah… kabulkanlah… Amiin!"

Tiba-tiba…

langit bergemuruh.

"JELEGERRR!!!" 

Si jejaka membuka mata perlahan.

Harimau sudah berdiri tepat di depannya.

Lalu…

harimau itu mengangkat kedua kaki depannya seperti orang berdoa.

Si jejaka terharu.

Matanya berkaca-kaca.

Dalam hatinya berkata:

"MasyaAllah… doaku dikabulkan…"

Kemudian harimau itu berkata dengan suara khusyuk:

"Allahumma baariklanaa fiimaa razaqtanaa… waqinaa ‘adzaabannaar…"

Si jejaka langsung sadar.

Harimau itu ternyata…

sedang membaca doa makan. 

Dan dia adalah menunya.

Yang Tulus Sering Datang Tanpa Suara, Pergi Tanpa Tanda

Dalam perjalanan hidup yang panjang dan tidak selalu mudah dipahami, kita dipertemukan dengan banyak orang. Ada yang datang membawa tawa, ada yang datang membawa pelajaran, ada pula yang datang hanya sebentar lalu menghilang tanpa jejak. Namun di antara semua itu, ada satu jenis kehadiran yang sering luput dari perhatian kita: orang yang hadir dengan tulus.

Mereka tidak datang dengan janji besar. Tidak membawa kata-kata berlebihan. Tidak pula menuntut untuk selalu diperhatikan. Kehadirannya sederhana, tetapi bermakna. Mereka ada ketika kita membutuhkan, mendengar ketika kita ingin didengarkan, dan tetap tinggal bahkan ketika keadaan kita tidak sedang baik-baik saja.

Sering kali justru orang seperti inilah yang tidak kita sadari nilainya sejak awal.

Kita terbiasa memberi perhatian kepada mereka yang terlihat menarik, yang bersuara keras, yang pandai menunjukkan kepedulian di depan banyak orang. Sementara itu, orang yang diam-diam menjaga kita dari jauh, yang tidak banyak bicara tetapi selalu hadir ketika diperlukan, justru sering terlewatkan oleh kesibukan kita sendiri.

Padahal ketulusan tidak selalu hadir dalam bentuk yang mencolok. Ia hadir dalam kesederhanaan sikap. Dalam kesabaran menunggu. Dalam kesediaan memahami tanpa diminta.

Orang yang tulus tidak selalu hadir di setiap momen penting dalam hidup kita, tetapi mereka hampir selalu ada di saat kita benar-benar membutuhkan sandaran.

Mereka tidak menghitung seberapa sering mereka memberi. Tidak mencatat seberapa banyak mereka membantu. Tidak pula menuntut balasan dari apa yang sudah dilakukan. Ketulusan mereka berjalan dalam diam, tanpa riuh, tanpa pengakuan.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan: ketulusan juga membutuhkan penghargaan.

Bukan penghargaan yang besar. Bukan pula sesuatu yang mahal. Cukup kesadaran bahwa kehadiran mereka berarti. Cukup perhatian sederhana bahwa mereka tidak dianggap biasa. Cukup sikap yang menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dalam menjaga hubungan itu.

Karena sekuat apa pun seseorang menjaga ketulusannya, ia tetap manusia yang ingin dihargai.

Sering kali kita baru menyadari arti seseorang setelah jarak mulai terbentuk. Setelah percakapan tidak lagi sehangat dulu. Setelah perhatian yang dulu terasa dekat berubah menjadi sekadar kenangan yang sesekali teringat.

Bukan karena mereka berubah. Tetapi karena mereka belajar memahami batas dirinya sendiri.

Ketulusan memang tidak menuntut. Namun ketulusan juga tidak selamanya mampu bertahan tanpa makna.

Ada orang-orang yang tetap tinggal bukan karena mereka tidak punya pilihan lain, tetapi karena mereka memilih untuk tetap ada. Mereka menjaga hubungan bukan karena kewajiban, melainkan karena kepedulian. Mereka bertahan bukan karena tidak mampu pergi, tetapi karena mereka percaya bahwa kehadiran mereka berarti bagi kita.

Dan justru orang-orang seperti inilah yang seharusnya kita jaga.

Karena dalam hidup, kita tidak membutuhkan banyak orang untuk berjalan bersama. Kita hanya membutuhkan beberapa orang yang tetap tinggal ketika keadaan tidak lagi mudah.

Mereka yang tidak hanya hadir ketika hidup sedang terang, tetapi juga tetap berjalan di samping kita ketika langkah terasa berat.

Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya orang yang mengenal kita yang menentukan kekayaan hidup seseorang. Melainkan siapa yang tetap memilih tinggal dengan tulus ketika semua hal berubah di sekeliling kita.

Tidak Harus Salah untuk Mengalah

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita berpikir bahwa yang harus mengalah adalah pihak yang salah. Seolah-olah mengalah berarti kalah. Seolah-olah mengalah berarti mengakui kesalahan. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Ada banyak situasi di mana seseorang berada di posisi yang benar, tetapi tetap memilih untuk mengalah. Bukan karena lemah. Bukan karena takut. Melainkan karena bijaksana dalam melihat akibat yang lebih besar. Mengalah bukan selalu soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Mengalah sering kali adalah soal siapa yang lebih mampu menjaga keadaan tetap baik. 

Mengalah Adalah Tanda Kedewasaan, Bukan Kelemahan 
Orang yang mudah marah ketika merasa benar biasanya ingin memenangkan keadaan. Tetapi orang yang mampu mengalah ketika merasa benar biasanya ingin menjaga keadaan. Mengalah adalah pilihan yang tidak selalu mudah. Karena saat kita yakin berada di posisi benar, ego sering kali ingin mempertahankan pendirian. Namun dalam banyak situasi, mempertahankan kebenaran dengan cara yang keras justru bisa menimbulkan kerugian yang lebih besar: hubungan menjadi renggang,
suasana menjadi tegang, persoalan menjadi panjang, dan hati menjadi tidak tenang 
Karena itu, mengalah bukan berarti menyerah. Mengalah adalah cara menjaga agar keadaan tidak semakin buruk. 

Belajar Mengalah dari Situasi di Jalan Raya
Contoh sederhana bisa kita lihat di jalan raya. Bayangkan kita sedang mengendarai mobil di jalur yang benar. Tiba-tiba dari arah depan ada mobil lain yang menyalip kendaraan di depannya dan masuk ke jalur kita. Secara aturan, kita berada di jalur yang benar. Secara posisi, kita tidak bersalah. Secara logika, seharusnya mobil itu yang berhenti. Namun apa yang biasanya kita lakukan? Kita menurunkan gas. Kita memberi ruang. Kita mengalah. 
Apakah itu berarti kita salah? Tidak. Kita mengalah karena kita tahu jika tetap mempertahankan posisi, yang terjadi bukan kemenangan—melainkan kecelakaan. Dalam situasi seperti itu, yang paling penting bukan siapa yang benar. Yang paling penting adalah semua tetap selamat. 

Mengalah Kadang Menyelamatkan Lebih Banyak Hal Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan: dalam keluarga dalam pertemanan dalam pekerjaan dalam masyarakat Ada saatnya kita memilih mengalah bukan karena kalah argumen, tetapi karena ingin menjaga hubungan. Ada saatnya kita memilih diam bukan karena tidak mampu menjawab, tetapi karena ingin menjaga suasana. Ada saatnya kita memilih mundur satu langkah agar masalah tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Karena tidak semua kemenangan harus diperjuangkan dengan keras. Sebagian kemenangan justru hadir saat kita memilih menahan diri. 

Mengalah Adalah Cara Orang Bijak Menjaga Kehormatan Mengalah bukan berarti kehilangan harga diri. Justru sering kali orang yang mampu mengalah adalah orang yang paling kuat mengendalikan dirinya sendiri. Ia tahu kapan harus berbicara. Ia tahu kapan harus diam. Ia tahu kapan harus maju. Dan ia tahu kapan harus memberi jalan. Seperti pengendara yang menurunkan gas demi keselamatan bersama, demikian pula orang bijak dalam kehidupan: ia tidak selalu ingin terlihat benar, tetapi ingin memastikan semuanya tetap berjalan baik. Karena pada akhirnya, tidak harus salah untuk mengalah. Kadang justru orang yang benar memilih mengalah agar keadaan tetap selamat—dan itulah bentuk kebijaksanaan yang sesungguhnya.

Ketika Konten Kehilangan Adab: Antara Monetisasi dan Hilangnya Batas Kepantasan

Di era media sosial saat ini, siapa pun bisa menjadi konten kreator. Kamera bukan lagi milik stasiun televisi. Panggung bukan lagi milik artis. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara, tampil, dan dikenal. Namun di balik kemudahan itu, muncul satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama: 

Apakah popularitas masih berjalan bersama adab dan sopan santun? Atau justru adab yang dikorbankan demi monetisasi? 

Hari ini kita menyaksikan fenomena yang semakin nyata. Demi mengejar jumlah penonton, jumlah pengikut, dan akhirnya penghasilan dari media sosial, sebagian konten kreator rela menurunkan standar kepantasan yang dahulu dijaga tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. 

Ketika Konten Tidak Lagi Mengajarkan, Tetapi Mengejutkan 

Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi inspirasi, ilmu, dan pengalaman. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Konten dibuat bukan lagi untuk memberi manfaat, tetapi untuk: menarik perhatian secepat mungkin, memancing emosi penonton, mengundang kontroversi, dan mengejar viral.
Dalam kondisi seperti ini, batas antara hiburan dan pelecehan sering kali menjadi kabur. Yang dahulu dianggap tidak pantas, sekarang dianggap lucu. Yang dahulu dianggap tidak sopan, sekarang dianggap biasa. Yang dahulu dianggap tabu, sekarang dijadikan bahan tontonan. 

Ketika Keluarga Dijadikan Bahan Konten Tanpa Batas 

Fenomena yang semakin sering terlihat adalah: istri melecehkan suami demi hiburan penonton, suami mempermalukan istri demi komentar dan like, anak-anak menjadikan orang tua sebagai bahan candaan, orang tua menjadikan anak sebagai alat mencari perhatian publik. Padahal keluarga adalah tempat menjaga kehormatan, bukan panggung untuk menjatuhkan satu sama lain. Hubungan yang seharusnya dilindungi justru dipertontonkan. Harga diri yang seharusnya dijaga justru dipermainkan. Semua dilakukan dengan satu alasan: demi monet. 

Ketika Adat dan Budaya Tidak Lagi Dijaga, Tetapi Dijadikan Bahan Lelucon 

Bangsa yang besar dikenal dari budayanya. Budaya bukan sekadar pakaian tradisional atau upacara adat. Budaya adalah cara kita berbicara, bersikap, menghormati orang tua, dan menjaga martabat diri. Namun hari ini kita mulai melihat: bahasa sopan diganti bahasa kasar demi lucu, tradisi dijadikan bahan parodi berlebihan, nilai kesantunan dianggap kuno, dan etika dianggap tidak menarik untuk ditonton. Padahal budaya adalah identitas. Ketika budaya dilecehkan, sebenarnya yang dilecehkan adalah jati diri kita sendiri. 

Yang Lebih Mengkhawatirkan: Ketika Agama Dijadikan Bahan Sensasi 

Ada satu batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh siapa pun. Yaitu agama. Namun kenyataannya, demi perhatian publik, ada saja konten yang: memainkan simbol agama, mengolok nilai keimanan, memutarbalikkan ajaran demi hiburan, atau menjadikan hal sakral sebagai bahan candaan. Ini bukan lagi sekadar soal kreativitas. Ini soal hilangnya kesadaran tentang batas kehormatan. 

Konten Kreator Tidak Sendiri: Penonton Juga Menentukan Arah 

Namun kita juga perlu jujur. Fenomena ini tidak terjadi sendirian. Konten seperti itu muncul karena ada yang menonton. Konten seperti itu berkembang karena ada yang menyukai. Konten seperti itu viral karena ada yang membagikan. Artinya, masyarakat juga ikut menentukan arah media sosial hari ini. Jika yang ditonton adalah konten merendahkan orang lain, maka konten seperti itu akan terus bermunculan. Jika yang disukai adalah konten yang melecehkan keluarga, budaya, dan agama, maka kreator akan terus membuat hal yang sama. Karena algoritma media sosial tidak mengenal benar atau salah. Algoritma hanya mengenal: apa yang banyak ditonton. 

Monetisasi Tidak Salah, Tetapi Cara Mencapainya Harus Dijaga 

Mencari penghasilan dari media sosial bukan sesuatu yang salah. Bahkan itu peluang yang sangat baik di zaman sekarang. Namun yang perlu dijaga adalah caranya. Apakah penghasilan itu didapat dengan: memberi manfaat? memberi inspirasi? memberi edukasi? atau justru menjatuhkan nilai-nilai yang seharusnya dijaga? Popularitas yang dibangun dengan merendahkan orang lain tidak akan bertahan lama. Tetapi kehormatan yang dijaga akan bertahan sepanjang hidup. 

Saatnya Kembali Menjadikan Adab Sebagai Batas Kreativitas 

Kreativitas tidak harus menghilangkan sopan santun. Humor tidak harus merendahkan orang lain. Konten menarik tidak harus melanggar norma. Justru konten terbaik adalah konten yang: menghibur tanpa menyakiti, mengkritik tanpa merendahkan, mengajak tanpa memaksa, dan viral tanpa kehilangan adab. Karena pada akhirnya, yang kita tinggalkan di media sosial bukan hanya jejak popularitas. Tetapi juga jejak nilai tentang siapa diri kita sebenarnya.

Sibuk Bukan Selalu Tentang Banyaknya Pekerjaan

Sering kali seseorang mengatakan sibuk bukan karena waktunya benar-benar habis, tetapi karena hal yang diajak tidak termasuk dalam daftar prioritasnya. Kita bisa melihat contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari: Seseorang bisa mengatakan sibuk membalas pesan, tetapi tetap sempat membuka media sosial berjam-jam. Seseorang bisa mengatakan sibuk bertemu teman lama, tetapi selalu punya waktu untuk hobinya. Bahkan ada yang mengatakan sibuk untuk keluarganya, namun tidak pernah sibuk untuk hal yang ia cintai. Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal apa yang dianggap penting dalam hidup seseorang. 

Ketika Sesuatu Menjadi Prioritas, Kata Sibuk Menghilang 

Perhatikan orang tua kepada anaknya. Seberat apa pun pekerjaannya, tetap ada waktu untuk anak. Perhatikan seseorang yang sedang jatuh cinta. Seberapa padat pun jadwalnya, tetap ada waktu untuk menyapa. Mengapa? Karena cinta selalu menemukan jalan, sementara ketidakpedulian selalu menemukan alasan. Orang yang benar-benar peduli tidak selalu punya waktu luang, tetapi selalu menyediakan waktu. Di situlah perbedaan antara waktu yang tersedia dan waktu yang diprioritaskan. 

Mengukur Posisi Kita dalam Hidup Seseorang 

Kadang kita tidak perlu bertanya apakah kita penting bagi seseorang. Cukup perhatikan: apakah dia menyempatkan waktu untuk mendengar kita, apakah dia hadir saat kita membutuhkan, apakah dia mengingat hal-hal kecil tentang kita, atau apakah kita selalu ditempatkan setelah semuanya selesai. Karena sejatinya, sikap jauh lebih jujur daripada kata-kata.  Jika seseorang selalu sibuk untuk kita, tetapi tidak sibuk untuk hal lain yang kurang penting, mungkin kita memang belum menjadi prioritasnya. 


Jangan Salah Memahami Makna Kesibukan 

Namun di sisi lain, kita juga perlu bijak memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab. Ada kesibukan yang memang nyata: pekerjaan keluarga kesehatan tanggung jawab hidup Karena itu, tulisan ini bukan untuk menghakimi orang yang sibuk. Tulisan ini adalah ajakan untuk memahami arti prioritas—baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. 

Pertanyaan yang Perlu Kita Tanyakan Justru kepada Diri Sendiri 

Apakah kita sudah memberikan waktu untuk hal yang benar-benar penting dalam hidup kita? Apakah kita sudah menyediakan waktu untuk: keluarga sahabat pasangan ibadah dan tujuan hidup kita sendiri . Jika belum, mungkin bukan kita yang sibuk—melainkan prioritas kita yang perlu diperbaiki. Menjadi Pribadi yang Tahu Menempatkan Prioritas Hidup yang baik bukan tentang melakukan banyak hal sekaligus, tetapi tentang melakukan hal yang tepat pada waktu yang tepat. 

Karena pada akhirnya: orang yang mencintai akan meluangkan waktu, orang yang peduli akan mencari kesempatan, dan orang yang menjadikan kita prioritas tidak akan menjadikan kata sibuk sebagai alasan yang berulang. Maka jadilah pribadi yang tidak hanya berkata peduli, tetapi hadir ketika dibutuhkan. Karena kehadiran adalah bentuk perhatian yang paling nyata dalam kehidupan

WFH, Penghematan Energi dan Realitas Penempatan PPPK

 Kebijakan Work From Home (WFH) yang direncanakan sebagai bagian dari upaya penghematan energi merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Dalam konteks global saat ini, efisiensi penggunaan energi memang menjadi kebutuhan penting, baik untuk menekan biaya operasional pemerintah maupun sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Namun demikian, implementasi kebijakan ini perlu mempertimbangkan kondisi nyata di daerah, khususnya terkait penempatan tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang baru diangkat. 

Di Kabupaten Lahat, banyak tenaga PPPK ditempatkan jauh dari domisili mereka. Sebagian besar di antaranya harus menempuh perjalanan harian menggunakan sepeda motor dengan jarak yang tidak dekat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kebijakan WFH benar-benar menjawab persoalan penghematan energi secara menyeluruh di tingkat daerah? 


Penempatan PPPK di wilayah yang berjauhan dari tempat tinggal menyebabkan beberapa dampak nyata: Tingginya konsumsi bahan bakar harian bagi pegawai. Risiko keselamatan perjalanan yang meningkat karena jarak tempuh yang jauh. Beban biaya transportasi pribadi yang cukup besar. Penurunan efektivitas kerja akibat kelelahan perjalanan. Mayoritas tenaga PPPK menggunakan kendaraan roda dua sebagai moda transportasi utama. Artinya, energi yang dikonsumsi setiap hari justru cukup signifikan di tingkat individu. Secara prinsip, WFH bertujuan mengurangi mobilitas pegawai sehingga konsumsi energi dapat ditekan. 

Namun pada praktiknya di daerah seperti Kabupaten Lahat, kebijakan ini belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan, karena : Pegawai tetap harus melakukan perjalanan jauh pada hari kerja non-WFH. Penempatan kerja yang jauh dari domisili masih menjadi faktor utama konsumsi energi. Beban energi justru lebih banyak ditanggung individu daripada institusi. Dengan kata lain, penghematan energi pada level kantor belum tentu sejalan dengan penghematan energi pada level pegawai. 

Agar kebijakan WFH benar-benar efektif dan berkeadilan, diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual, antara lain: Evaluasi penempatan PPPK berbasis kedekatan domisili. Pertimbangan redistribusi pegawai secara bertahap. Skema WFH prioritas bagi pegawai dengan jarak tempuh jauh. Dukungan transportasi atau kebijakan fleksibilitas jam kerja. 

Pendekatan seperti ini akan membuat kebijakan penghematan energi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berdampak nyata bagi pegawai di lapangan. Kebijakan WFH merupakan langkah positif dalam rangka efisiensi energi dan modernisasi tata kelola pemerintahan. Namun keberhasilannya sangat ditentukan oleh keselarasan antara kebijakan pusat dan kondisi daerah. 

Dalam konteks Kabupaten Lahat, penempatan tenaga PPPK yang jauh dari domisili perlu menjadi perhatian serius agar tujuan penghematan energi benar-benar tercapai secara menyeluruh dan berkeadilan. Kebijakan yang baik bukan hanya hemat energi secara sistem, tetapi juga meringankan beban aparatur yang menjalankannya setiap hari

JADI ORANG BAIK

Menjadi orang baik adalah pilihan yang sangat mulia. Menolong tanpa diminta, membantu tanpa pamrih, dan hadir ketika orang lain sedang kesulitan adalah tanda bahwa hati kita masih hidup dan dipenuhi kepedulian. Namun dalam perjalanan hidup, kita juga perlu memahami satu hal penting: menjadi baik tetap harus disertai kehati-hatian. Tidak semua orang yang pernah kita bantu akan membalas dengan kebaikan. Ada yang menerima pertolongan dengan rasa syukur, tetapi ada juga yang setelah terbantu justru berubah sikap. Bahkan tidak sedikit yang kemudian memutarbalikkan cerita, menebar fitnah, atau diam-diam menjatuhkan orang yang dulu menolongnya. Contoh sederhana sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang kita bantu mendapatkan pekerjaan. Kita rekomendasikan, kita dampingi, bahkan kita jaga nama baiknya. Namun setelah ia merasa posisinya aman, justru ia mulai menjauh, mengurangi rasa hormat, bahkan menyebarkan cerita yang tidak benar tentang kita agar dirinya terlihat lebih baik. Ada juga yang pernah kita bantu secara materi saat kesulitan. Kita pinjamkan uang tanpa jaminan karena percaya dan ingin meringankan bebannya. Tetapi ketika ditagih dengan cara baik-baik, justru kita yang dianggap menekan, disebut tidak ikhlas, bahkan difitnah seolah-olah kita yang bersalah. Contoh lain, ketika kita membela seseorang di hadapan orang lain karena ingin menjaga kehormatannya. Namun di belakang kita, orang yang sama justru menyampaikan cerita berbeda, seakan-akan kitalah yang memperkeruh keadaan. Situasi seperti ini memang menyakitkan. Tetapi dari situlah kita belajar bahwa kebaikan harus disertai kebijaksanaan. Menolong bukan berarti membuka semua batas. Peduli bukan berarti menyerahkan seluruh kepercayaan tanpa pertimbangan. Sebagai pengingat, ada sebuah dongeng lama tentang seekor bangau dan seekor serigala. Suatu hari, serigala tersedak tulang di tenggorokannya. Ia kesakitan dan hampir mati. Banyak hewan takut menolong karena serigala dikenal buas dan sering memangsa mereka. Namun seekor bangau yang berhati baik merasa kasihan. Dengan lehernya yang panjang, bangau membantu mengeluarkan tulang dari tenggorokan serigala. Serigala pun sembuh. Bangau lalu berkata dengan sopan, “Aku sudah menolongmu. Bolehkah aku menerima balasan sebagaimana janjimu?” Serigala tertawa dan menjawab, “Bukankah sudah cukup bagimu bisa memasukkan kepalamu ke mulutku dan keluar dengan selamat? Itu sudah balasan yang besar!” Bangau pun sadar bahwa ia telah menolong makhluk yang tidak tahu berterima kasih. Beberapa waktu kemudian, serigala kembali mencari mangsa di sekitar sungai tempat bangau biasa berdiri. Karena terlalu percaya diri dan merasa semua hewan takut padanya, serigala masuk terlalu jauh ke rawa berlumpur. Ia terperosok dan akhirnya tidak bisa keluar. Tidak ada hewan yang mau menolongnya, karena semua mengingat sifatnya yang jahat dan tidak tahu membalas kebaikan. Akhirnya serigala terkena akibat dari sikapnya sendiri. Dongeng ini mengajarkan bahwa kebaikan tetaplah kebaikan, tetapi kita juga perlu bijak melihat kepada siapa kebaikan itu diberikan. Orang yang tidak tahu menghargai pertolongan sering kali pada akhirnya jatuh oleh perbuatannya sendiri. Tetaplah menjadi orang baik. Jangan berhenti membantu. Jangan berubah menjadi keras hanya karena pernah disakiti. Namun belajarlah untuk mengenali siapa yang benar-benar tulus, siapa yang hanya datang saat membutuhkan. Ikhlaskan kebaikan yang sudah kita lakukan. Jangan berharap balasan dari manusia. Karena jika manusia lupa, Allah tidak pernah lupa. Jika manusia membalas dengan fitnah, Allah membalas dengan kemuliaan. Jika manusia menjatuhkan dari belakang, Allah meninggikan derajat orang yang tetap sabar dan menjaga niatnya. Menjadi baik itu pilihan. Menjadi bijak dalam berbuat baik itu keharusan. Dan menjaga diri dari orang yang tidak tahu berterima kasih adalah bentuk menghargai diri sendiri. Tetaplah menolong, tapi tetaplah waspada. Tetaplah tulus, tapi tetaplah tegas. Karena hati yang baik juga berhak untuk dijaga.

Kamis, 26 Maret 2026

Perasaan Seorang Lelaki

Seorang laki-laki sering kali disalahpahami. Banyak orang mengira bahwa yang ada di pikirannya hanyalah nafsu dan hasrat semata. Padahal jauh di dalam hatinya, yang paling ia inginkan bukanlah itu. Ia hanya ingin diterima dengan tulus, dihargai tanpa diminta, dan merasa dibutuhkan tanpa harus memohon. Ia ingin keberadaannya berarti di rumah yang ia perjuangkan setiap hari. Seorang laki-laki juga merindukan kedekatan. Ia haus perhatian, bukan dari siapa saja, tetapi dari wanita yang telah ia pilih sebagai istrinya. Dari satu-satunya perempuan yang ia percayakan untuk berjalan bersamanya sepanjang hidup. Kedekatan itu baginya bukan sekadar sentuhan, melainkan bahasa cinta, rasa aman, dan penguat langkah setelah lelah menghadapi kerasnya dunia. Ketika seorang laki-laki mulai merasa ditolak oleh istrinya sendiri, maka yang menjauh bukan hanya tubuhnya. Perlahan hatinya ikut menjauh. Ia bisa tetap diam di rumah yang sama, tetap menjalankan tanggung jawabnya seperti biasa, tetapi di dalam dirinya ada bagian yang mulai lelah, mulai sepi, dan perlahan terasa mati karena merasa tidak lagi diinginkan oleh wanitanya sendiri. Padahal sesungguhnya, seorang laki-laki selalu membutuhkan kehangatan istrinya. Kehangatan itu bukan kelemahan, melainkan tempat pulang paling aman baginya di dunia ini. Dari sanalah ia mendapatkan kekuatan untuk tetap berdiri tegak, tetap bekerja keras, tetap bertahan menghadapi tekanan hidup, dan tetap setia menjaga keluarganya. Seorang laki-laki mungkin jarang bercerita tentang lelahnya. Ia tidak selalu pandai mengungkapkan rasa rindunya. Namun di balik diamnya, ia menyimpan harapan sederhana: dipahami tanpa harus banyak menjelaskan, dipeluk tanpa harus meminta, dan dicintai tanpa harus bersaing dengan kesibukan dunia. Karena bagi seorang laki-laki, rumah bukan hanya tempat untuk pulang. Rumah adalah tempat di mana hatinya ingin diterima sepenuhnya. Dan istrinya adalah satu-satunya tempat ia berharap menemukan ketenangan yang tidak ia temukan di mana pun di dunia ini.

Minggu, 19 Juni 2011

wonderful life

Saat aku merasa sudah tdk sanggup memikul beban hidupku yg begitu berat, aku mengakhiri hidupku dgn melompat dr sebuah gedung Lt. 11
Dilantai 10: Kulihat pasangan yg terkenal sangat harmonis & saling mencintai sedang bertengkar & saling memukul satu sama lain.
Dilantai 9: Kulihat Peter yg biasanya kuat & tabah sedang menangis
Dilantai 8: Ah Mei memergoki tunangannya sedang bercinta dgn sahabatnya.
Dilantai 7: Linda sedang minum obat anti depresi.
Dilantai 6: Heng yg pengangguran terus membeli 7 koran utk mencari lowongan kerja tiap hari
Dilantai 5: Mr.Wong yg sangat dihormati publik sedang mencoba baju dalam istrinya
Dilantai 4: Rosa bertengkar lagi dgn pacarnya.
Dilantai 3: pak tua sdg mengharapkan seseorang datang mengunjunginya
Dilantai 2: Lily sdg memandangi foto suaminya yg sudah meninggal 6 bulan lalu
Sebelum aku melompat dari gedung, kupikir aku orang yang paling malang
Skrg aku sadar bhw setiap orang punya masalah & kekuatirannya sendiri

Setelah kulihat smuanya itu.. aku tersadar bhw ternyata keadaanku sebenarnya tdk begitu buruk..
Semua orang yg kulihat tadi skrg sedang melihat aku… terkapar meregang nyawa..
Kurasa setelah mereka melihat kondisiku yg sedang menjelang tak bernyawa skrg, mereka akan berpikir bhw sebenarnya keadaan mereka tdk terlalu buruk.

**Life is Wonderful (Andrew Ho) *

Senin, 18 April 2011

Bersyukur

Malam ini bokap nyuru saya anterin dia buat proses kacamata. Tepatnya di Jalan Gunung Kawi Denpasar, toko kacamatanya kebetulan ada di kawasaan pasar, karena males ikut masuk ke dalem, saya nunggu di luar.

Gak ada hal yang menarik di sekitar tempat itu, sampai saya ngeliat ada seorang nenek penjual kelapa muda dan pisang nungguin dagangannya sambil tidur duduk, sesekali dia terbangun kalau tangan yang menumpu kepalanya jatuh. Sebenernya saya niat banget ambil gambar nenek itu, rentan dimakan usia tapi tetap harus bekerja untuk mengisi perutnya, seharusnya dimasa tuanya dia bisa istirahat ditempat yang tenang bercanda gurau dengan anak dan cucunya..
waktu liat dia agak lama, jujur saya teringat sosok nenek yang telah memelihara saya dari umur 3 bulan sampai mencapai umur yang kata orang "ABG" 17 tahun, tapi beliau sekarang udah pergi jauh menghadap penciptanya.

Ada hal menarik lain di pasar, dia pedagang KOREK API BATANGAN, ya... pedagang korek api batangan harganya 1000 /3 kotak, yang buat saya salut pedagang ini berjalan dari ujung pasar satu ke ujung pasar lainnya cuma buat menawarkan 1 kotak korek api batangan untuk dijual yang artinya cuma mendapat uang kurang dari Rp.500... dia sempat bolak-balik ditempat saya menunggu kira-kira dalam rentan waktu 15 menit.

Saat lagi merenungkan hal-hal yang udah saya liat tadi, bokap tiba-tiba dateng dan ngajak pulang karena proses kacamatanya udah selesai. Tapi karena ada pesenan dari nyokap buat beli es-krim, kita mampir ke supermarket deket rumah. Sebenernya ada yang menarik dari supermarket ini, pemiliknya mengijinkan seorang nenek penjual nasi bungkus buat buka kios di tempat parkirnya (pemilik yang baik) walaupun sebenernya supermarket ini udah punya beberapa cabang di kawasan denpasar.

Nenek yang jual nasi ini punya cucu, kata bokap anak kecil perempuan ini gak punya bapak dan ibu, ntah karena cerai atau meninggal yang jelas sekarang anak itu harus tinggal sama neneknya, dia nungguin neneknya berjualan sampai malam hari, anak ini putus sekolah sejak kelas 2 sd jadi sekarang belum bisa baca tulis. tadi saya liat anak itu duduk sendiri, balik-balik kotak hp seakan itu mainan puzzle sambil ngeliat orang-orang keluar supermarket dengan belanjaan yang puluhan ribu... ironis banget, saya jujur sebagai laki-laki hampir mau nangis liatnya....

dia anak yang sangat tegar, saat anak-anak lain pada tidur dibacain dongeng, minum susu, nonton tv, main boneka dia cuma bisa bermimpi dan melihat kehidupan yang "mewah" itu... bokap sempat beliin dia es-krim, dan tau apa yang dia bilang... "makasi, ya pak.." kata-kata yang biasa kan? tapi asal kalian tau air mata saya keluar saat kata itu terucap, dia seneng banget... es-krimnya langsung dia makan.... neneknya juga bilang terima kasih... bokap cuma senyum dan bilang pamit pulang sama mereka... beruntungnya saya masih memiliki orang tua yang punya hati tulus (walaupun saya sendiri masih suka kontra dengan bokap)...

dari perjalanan saya yang kurang dari 2 jam itu, ada banyak renungan yang saya dapat, ayo, coba jangan palingkan kepala kita dari kenyataan hidup saat ini.. disekeliling kita ada banyak orang yang kurang beruntung, tau apa yang mereka butuhkan? hanya beberapa suap nasi agar lambung mereka tidak dikikis asam ... agar perut mereka bisa terisi, sedangkan kita? masih bisa makan enak, menikmati teknologi, tidur di bawah atap yang bagus, bisa belanja apa yang kita mau, tapi masih tidak bersyukur dan selalu ingin lebih... hp baru, laptop baru, motor baru, baju baru, dll.

mulai sekarang lihat apa yang anda miliki.. ya, lihat semuanya dalam otak anda... hilangkan itu satu persatu... apa yang terjadi? anda takut? tapi mengapa mereka yang miskin tidak pernah takut? mungkin jawaban anda... "ya, karena mereka gak punya itu semua.." jika anda berkata seprti itu artinya anda SALAH BESAR... itu karena mereka BERSYUKUR!

Dulu saya sempat berfikir kenapa tuhan tidak adil dengan menciptakan "si kaya" dan "si miskin" sekarang saya tau jawabannya... "si miskin" ada untuk mengingatkan "si kaya" bahwa mereka tidak akan selamanya hidup dalam kemewahan, bahwa tidak ada yang perlu membuat anda takut bahkan uang sekalipun jika anda BERSYUKUR.

Karena saya tidak mampu berteriak untuk mengubah sesuatu, maka saya berusaha menulisnya untuk anda.

Source : http://dayakboy.wordpress.com/2010/07/04/bersyukur/

Buku Tabungan Pelekat Cinta..

Priya menikah dengan Hitesh. Pada pesta pernikahan, ibu Priya memberinya sebuah buku tabungan. Di dalamnya berisi tabungan sejumlah Rs.1000 (Rp 246.000). Dia berkata, "Priya, terimalah buku tabungan ini. Gunakan sebagai buku catatan dari kehidupan pernikahanmu. Jika ada satu peristiwa bahagia atau yang bisa dikenang, masukkan sejumlah uang tabungan di dalamnya. Tulis kejadian yang kamu alami di baris catatan yang ada di sampingnya. Semakin besar kenangan terhadap peristiwa itu, masukkan uang tabungan yang lebih besar. Ibu sudah melakukan di awal pernikahanmu ini.. Lakukan selanjutnya bersama Hitesh. Saat kamu melihat kembali tahun-tahun yang telah berlalu, kamu akan mengetahui betapa bahagianya kehidupan pernikahan yang kamu miliki."

Priya memberitahukan hal ini kepada Hitesh setelah pesta usai. Mereka berdua setuju bahwa ini adalah ide yang sangat bagus dan mereka tidak sabar menanti saatnya untuk memasukkan tambahan uang tabungan ke dalam buku itu.

Ini yang mereka lakukan setelah beberapa waktu :
- 7 Februari : Rs 100 (Rp 24.600), perayaan ultah pertama untuk Hitesh setelah menikah.
- 1 Maret : Rs 300 (Rp 73.800), gaji Priya naik
- 20 Maret : Rs 200 (Rp 49.200), berlibur ke Bali
- 15 April : Rs 2.000 (Rp 492.000), Priya hamil
- 1 Juni ; Rs 1,000 (Rp 246.000), Hitesh dipromosikan ... dan seterusnya ...

Akan tetapi setelah beberapa tahun berlalu, mereka mulai beradu pendapat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Mereka saling diam. Mereka menyesal telah menikahi orang yang paling buruk di dunia ... tidak ada lagi cinta ... sesuatu yang sangat tipikal di masa ini.

Suatu hari Priya berkata pada ibunya, "Ibu, kami tidak bisa bertahan lagi. Kami setuju untuk bercerai. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya telah memutuskan menikah dengan orang ini !"

Ibunya menjawab, "Baiklah, apa pun yang kamu ingin kerjakan kalau sudah tidak bisa bertahan. Tetapi sebelum kamu melangkah lebih jauh, tolong lakukan hal ini. Ingat buku tabungan yang ibu berikan saat pesta pernikahan kalian? Ambil semua uangnya dan belanjakan sampai habis. Kamu tidak bisa terus menyimpan catatan di buku tabungan itu untuk sebuah pernikahan yang buruk."

Priya berpikir bahwa itu benar. Jadi dia pergi ke bank, menunggu di antrian dan berencana menutup buku tabungan itu. Ketika menunggu, dia melihat catatan yang ada di buku tabungan di tangannya. Dia melihat, melihat, dan melihat. Kemudian ingatan akan semua kebahagiaan dan sukacita di masa-masa yang telah lewat muncul kembali di pikirannya. Air mata menggenang dan berurai di pipinya. Kemudian dia bergegas meninggalkan bank dan pulang.

Ketika sampai di rumah, Priya memberikan buku tabungan itu pada Hitesh, dan memintanya untuk memasukkan sejumlah uang ke tabungan itu sebelum mereka bercerai.

Hari esoknya, Hitesh mengembalikan buku tabungan itu pada Priya. Dia menemukan tambahan tabungan sebesar Rs 5000 (Rp 1.230.000) dengan catatan di dalam buku tabungan: 'Ini adalah hari dimana saya menyadari betapa saya mencintaimu sepanjang tahun-tahun yang telah kita lewati. Betapa besar kebahagiaan telah kamu bawa untukku." Mereka berdua berpelukan dan menangis, dan meletakkan buku tabungan itu kembali di tempat semula.

Anda tahu berapa uang yang terkumpul saat mereka pensiun? Saya tidak bertanya pada mereka. Saya percaya uang bukan masalah lagi setelah mereka berhasil melalui tahun-tahun yang indah di sepanjang kehidupan pernikahan mereka.

Source : http://www.ngobrolaja.com/showthread.php?t=90539