Selasa, 31 Maret 2026

Ketika Konten Kehilangan Adab: Antara Monetisasi dan Hilangnya Batas Kepantasan

Di era media sosial saat ini, siapa pun bisa menjadi konten kreator. Kamera bukan lagi milik stasiun televisi. Panggung bukan lagi milik artis. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara, tampil, dan dikenal. Namun di balik kemudahan itu, muncul satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama: 

Apakah popularitas masih berjalan bersama adab dan sopan santun? Atau justru adab yang dikorbankan demi monetisasi? 

Hari ini kita menyaksikan fenomena yang semakin nyata. Demi mengejar jumlah penonton, jumlah pengikut, dan akhirnya penghasilan dari media sosial, sebagian konten kreator rela menurunkan standar kepantasan yang dahulu dijaga tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. 

Ketika Konten Tidak Lagi Mengajarkan, Tetapi Mengejutkan 

Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi inspirasi, ilmu, dan pengalaman. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Konten dibuat bukan lagi untuk memberi manfaat, tetapi untuk: menarik perhatian secepat mungkin, memancing emosi penonton, mengundang kontroversi, dan mengejar viral.
Dalam kondisi seperti ini, batas antara hiburan dan pelecehan sering kali menjadi kabur. Yang dahulu dianggap tidak pantas, sekarang dianggap lucu. Yang dahulu dianggap tidak sopan, sekarang dianggap biasa. Yang dahulu dianggap tabu, sekarang dijadikan bahan tontonan. 

Ketika Keluarga Dijadikan Bahan Konten Tanpa Batas 

Fenomena yang semakin sering terlihat adalah: istri melecehkan suami demi hiburan penonton, suami mempermalukan istri demi komentar dan like, anak-anak menjadikan orang tua sebagai bahan candaan, orang tua menjadikan anak sebagai alat mencari perhatian publik. Padahal keluarga adalah tempat menjaga kehormatan, bukan panggung untuk menjatuhkan satu sama lain. Hubungan yang seharusnya dilindungi justru dipertontonkan. Harga diri yang seharusnya dijaga justru dipermainkan. Semua dilakukan dengan satu alasan: demi monet. 

Ketika Adat dan Budaya Tidak Lagi Dijaga, Tetapi Dijadikan Bahan Lelucon 

Bangsa yang besar dikenal dari budayanya. Budaya bukan sekadar pakaian tradisional atau upacara adat. Budaya adalah cara kita berbicara, bersikap, menghormati orang tua, dan menjaga martabat diri. Namun hari ini kita mulai melihat: bahasa sopan diganti bahasa kasar demi lucu, tradisi dijadikan bahan parodi berlebihan, nilai kesantunan dianggap kuno, dan etika dianggap tidak menarik untuk ditonton. Padahal budaya adalah identitas. Ketika budaya dilecehkan, sebenarnya yang dilecehkan adalah jati diri kita sendiri. 

Yang Lebih Mengkhawatirkan: Ketika Agama Dijadikan Bahan Sensasi 

Ada satu batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh siapa pun. Yaitu agama. Namun kenyataannya, demi perhatian publik, ada saja konten yang: memainkan simbol agama, mengolok nilai keimanan, memutarbalikkan ajaran demi hiburan, atau menjadikan hal sakral sebagai bahan candaan. Ini bukan lagi sekadar soal kreativitas. Ini soal hilangnya kesadaran tentang batas kehormatan. 

Konten Kreator Tidak Sendiri: Penonton Juga Menentukan Arah 

Namun kita juga perlu jujur. Fenomena ini tidak terjadi sendirian. Konten seperti itu muncul karena ada yang menonton. Konten seperti itu berkembang karena ada yang menyukai. Konten seperti itu viral karena ada yang membagikan. Artinya, masyarakat juga ikut menentukan arah media sosial hari ini. Jika yang ditonton adalah konten merendahkan orang lain, maka konten seperti itu akan terus bermunculan. Jika yang disukai adalah konten yang melecehkan keluarga, budaya, dan agama, maka kreator akan terus membuat hal yang sama. Karena algoritma media sosial tidak mengenal benar atau salah. Algoritma hanya mengenal: apa yang banyak ditonton. 

Monetisasi Tidak Salah, Tetapi Cara Mencapainya Harus Dijaga 

Mencari penghasilan dari media sosial bukan sesuatu yang salah. Bahkan itu peluang yang sangat baik di zaman sekarang. Namun yang perlu dijaga adalah caranya. Apakah penghasilan itu didapat dengan: memberi manfaat? memberi inspirasi? memberi edukasi? atau justru menjatuhkan nilai-nilai yang seharusnya dijaga? Popularitas yang dibangun dengan merendahkan orang lain tidak akan bertahan lama. Tetapi kehormatan yang dijaga akan bertahan sepanjang hidup. 

Saatnya Kembali Menjadikan Adab Sebagai Batas Kreativitas 

Kreativitas tidak harus menghilangkan sopan santun. Humor tidak harus merendahkan orang lain. Konten menarik tidak harus melanggar norma. Justru konten terbaik adalah konten yang: menghibur tanpa menyakiti, mengkritik tanpa merendahkan, mengajak tanpa memaksa, dan viral tanpa kehilangan adab. Karena pada akhirnya, yang kita tinggalkan di media sosial bukan hanya jejak popularitas. Tetapi juga jejak nilai tentang siapa diri kita sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar